Jumat, 09 Februari 2018

4 Mitos Makanan Organik Yang Harus Kamu Ketahui

4 Mitos Makanan Organik Yang Harus Kamu Ketahui

Saat berbelanja di pasaraya, beberapa orang ada yang langsung memutuskan pergi ke rak makanan organik daripada yang biasa. Banyak yang percaya bahan makanan organik diklaim bebas pestisida dan lebih menyehatkan.

Meski demikian, bukan berarti Anda hanya mengonsumsi makanan organik saja. Sebab, menurut ahli toksikologi beberapa mitos yang beredar justru menyesatkan.

"Kekhawatiran terbesar saya adalah informasi yang diberikan terkait bahan makanan organik justru akan membuat orang tidak mengonsumsi banyak buah dan sayuran sehat. Tindakan seperti ini justru lebih berbahaya untuk kesehatan dalam jangka panjang," kata Carl Winter, ahli toksikologi makanan dari Universitas California kepada Futurism.

Sebelum mengambil keputusan untuk makanan Anda, ada baiknya simak penjelasan sains terkait 4 mitos yang beredar terkait makanan organik.

1. Makanan organik lebih aman karena bebas pestisida

Saat makanan dilabeli organik, maka produk tersebut harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh organisasi dan pemerintah. Departemen Pertanian AS (USDA) menyebut makanan bisa disebut organik jika melindungi sumber daya alam, melestarikan keanekaragaman hayati, dan hanya menggunakan zat yang disetujui. Di AS dan Kanada, makanan organis harus bebas transgenik atau bebas gen asing.

Dari definisi itu, makanan organik haruslah bebas pupuk sintetis atau pestisida sebelum dipanen. Namun bukan berarti makanan organik benar-benar bebas residu pupuk. Pada 2011 USDA menunjukkan 39 persen dari 571 sampel makanan organik mengandung residu pestisida.

Ahli toksologi mengatakan bahwa pestisida belum tentu beracun bagi manusia. "Prinsip pertamanya adalah dosis yang membuat racun," kata Winter.

Selain itu, petani saat ini pun menggunakan pestisida yang jauh lebih sedikit daripada satu dekade yang lalu. Pestisida itu sendiri harus terbukti berdampak rendah pada kesehatan manusia.

Meski kandungan pestisida yang tingga dapat menimbulkan masalah kesehatan, namun sisa residu yang tertinggal dalam makanan terbukti berulangkali tidak berpengaruh pada kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tidak ada pestisida yang diizinkan dalam perdagangan pangan Internasional dapat berisiko genetik bagi konsumen.

2. Makanan Organik Lebih Sehat

Setelah pemerintah AS mengatur produk organik pada 1990, para pendukung mengklaim bahwa makanan organik membuat lebih sehat. Klaim yang sulit dipastikan ini justru menyesatkan.

Setelah menganalisis 240 penelitian tentang nilai gizi makanan organik, penulis penelitian 2012 yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine menyimpulkan bahwa mereka tidak menemukan makanan organik secara signifikan lebih bergizi daripada makanan konvensional.

Dalam makalah itu, ilmuwan juga menyimpulkan bahwa makanan organik dapat mengurangi paparan konsumen terhadap residu pestisida dan menghindari menelan bakteri resisten antibiotik.

3. Kandungan transgenik (GMO) berbahaya untuk dimakan

Genetically Modified Organisms (GMO) atau tanaman dengan genom yang telah ditambah dengan DNA dari organisme lain sudah mengubah secara permanen industri pertanian. Para ilmuwan telah menciptakan varietas tanaman rekayasa genetika yang mengandung gen untuk melindungi dari hama, gulma, atau bahkan virus tanaman tertentu.

Perdebatan soal keamanan GMO ini masih terus muncul meski dibuat pertama kali 23 tahun lalu. Perlu diketahui, GMO tak selalu pada penggunaan tidak wajar yang direkayasa secara sintesis, tanaman jenis ini juga memanfaatkan proses alami.

Misalnya bakteri Bacillus thuringiensis ditemukan sebagai insektisida alami sejak lebih dari 100 tahun lalu. Baru-baru ini, ahli biologi telah memodifikasi gen tanaman seperti jagung untuk mengekspresikan protein insektisida yang ada dalam mikroorganisme alami ini. Akibatnya, tanaman itu beracun bagi serangga namun ladang dan ekosistem sekitarnya sebagian besar tidak terpengaruh.

Ketakutan pada transgenik memengaruhi kesehatan memberi konsumen alasan untuk mengonsumsi organik. Padahal sampai saat ini tak ada bukti yang dapat dipercaya bahwa tanaman rekayasa genetik dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia. Hal itu pun telah diumumkan WHO.

4. Tanaman rekayasa genetika buruk bagi lingkungan

Kelompok yang menentang tanaman rekayasa genetika tak hanya menyebut hal ini buruk untuk kesehatan, tetapi juga bagi lingkungan. Salah satu yang dikhawatirkan adalah tanaman rekayasa genetika menggunakan herbisida yang lebih besar dan bisa mengurangi keanekaragaman hayati dan membuat gulma lebih tahan bahan kimia.

Tapi secara keseluruhan hal ini tidak menyebabkan kerusakan pada lingkungan. Penelitian 2016 menemukan bahwa tanaman GMO benar-benar dapat mengurangi jumlah pestisida yang dibutuhkan untuk meningkatkan jumlah produksi tanaman.

Penelitian 2014 menemukan bahwa tanaman hasil rekayasa genetika memiliki hasil 22 persen lebih banyak daripada varietas non-GM. Lebih banyak makanan per meter persegi bisa berarti bahwa lebih sedikit lahan dibutuhkan di seluruh dunia untuk pertanian, membuat lebih banyak habitat tidak terganggu atau mengalokasikan lebih banyak lahan untuk cadangan alam atau koridor satwa liar

Makanan organik bukanlah pilihan buruk, begitu pula makanan konvensional. Buatlah pilihan secara bijak berdasarkan sains yang telah dipaparkan, bukan sekadar mitos.

Walau banyak mitos beredar terkait makanan organik dan biasa, tapi yang jelas makan buah dan sayur adalah yang paling penting. Tak peduli apakah itu makanan organik atau bukan.

0 komentar:

Posting Komentar